Rumah Anti Gempa! Berikut Cara Jepang Membangun Rumah Anti Gempa, Patut Di Ditiru!

 

Cara Jepang Membangun Rumah Anti Gempa, Patut Ditiru!





Sebagai negara yang dilalui garis khatulistiwa dan berada di jalur cincin api pasifik (ring of fire), Indonesia diberkahi kekayaan alam yang begitu melimpah.

Keanekaragaman hayati, lahan pertanian yang subur, landscape yang memukau, membuat Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara tropis yang kaya akan sumber daya alamnya, namun juga negara yang menyimpan potensi wisata yang sangat menjanjikan.

Tentu sebagai masyarakat Indonesia kita patut berbangga diri akan semua potensi kekayaan tersebut. Namun, dibalik kekayaan alam yang kita miliki, Indonesia juga memiliki potensi bencana alam yang cukup besar, salah satunya gempa.

Indonesia bukan satu-satunya negara yang memiliki potensi gempa yang besar, sebut saja Jepang yang bahkan telah mewajibkan semua penduduknya untuk membangun rumah anti gempa sejak tahun 1971.

Undang-undang ini kemudian direvisi oleh pemerintah Jepang pasca gempa besar mengguncang negaranya pada tahun 1981 di perfektur Miyagi.

Pemerintah Jepang lantas menetapkan Standar Bangunan Jepang harus tahan terhadap guncangan di atas enam magnitudo.

Prinsip Dasar Konstruksi Rumah Jepang

Banyak yang kemudian berpikir, kita perlu mempersiapkan diri agar selamat dari guncangan gempa.

Padahal yang harus kita sadari adalah, terjadinya gempa bumi tidak secara langsung dapat membunuh manusia, namun puing-puing rumah yang ambruk saat terjadi gempa lah yang dapat menyebabkan korban jiwa dari bencana alam tersebut.

Berangkat dari kesadaran tersebut, masyarakat Jepang kemudian memiliki prinsip dasar konstruksi dalam membangun sebuah rumah atau bangunan anti-gempa, yang mungkin bisa kita terapkan juga di hunian kita.


  • Pemakaian material bangunan yang ringan

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, pada dasarnya bukan gempa yang dapat membunuh seseorang, namun tertimpa reruntuhan rumah akibat gempa yang dapat menyebabkan seorang kehilangan nyawanya.

Maka, alangkah lebih baiknya jika bangunan dengan material yang lebih ringan, seperti penggunaan material kayu sebagai rangka bangunan serta penggunaan bata ringan dan rangka baja ringan.


  • Simetrisitas dan struktur bangunan sederhana

Kesalahan ini sangat sering kita temui khususnya pada pemukiman padat penduduk di Indonesia.

Sering sekali masyarakat mengabaikan struktur bangunan dan simetrisitas dari rumah yang akan mereka bangun, dengan alasan terbatasnya ketersediaan lahan yang ada, serta pemanfaatan lahan kosong.

Faktanya, struktur bangunan yang sederhana dan simetrisitas bangunan dapat menahan efek guncangan gempa lebih baik daripada bangunan yang bentuknya tidak beraturan.

Hal itu disebabkan kekuatan gempa yang terjadi dapat terdistribusi secara merata ke seluruh elemen struktur bangunan.

Selain itu, alangkah lebih mudah untuk menentukan letak titik kolom dan pondasi sebagai rangka rumah apabila struktur bangunannya sederhana dan juga simetris.


  • Sistem konstruksi penahan beban

Pastikan bahwa seluruh komponen elemen bangunan, baik struktural dan non-struktural terikat dengan baik satu sama lain.

Penyatuan struktur pondasi, kolom, balok, dan struktur atap melalui sambungan yang memadai.

Serta diperlukan struktur menyilang dan pengikat di setiap sambungannya untuk memperkokoh dan membantu bangunan menyalurkan beban gempa secara lebih merata.


  • Desain knock down

Desain knock down (dapat dibongkar pasang) merupakan desain rumah anti-gempa yang paling terkenal di populer kan oleh masyarakat Jepang.

Saking populernya, menggunakan desain rumah knock down merupakan sebuah tren dan dianggap sebagai bagian gaya hidup urban masyarakat Jepang.

Bangunan yang dapat dibongkar pasang memungkinkan tingkat kerusakan yang kecil karena tentu saja terbuat dari material yang tidak permanen, layaknya rumah yang dibangun dengan cor-an semen.

Penggunaan desain knock down memungkinkan penggunananya menggunakan konstruksi dinding/sekat yang terbuat dari bahan kayu atau tripleks.


Awal mula desain rumah anti gempa di Jepang

Di era prasejarah hingga abad ke-2 SM, jauh sebelum adanya teknologi modern, pemukiman masyarakat Jepang pada umumnya hanya berupa rumah sederhana dengan lantai dan dinding dari tanah liat serta beratapkan jerami.

Ide pembangunan rumah berupa lantai, dinding tanah liat dan atap jerami ini didapatkan masyarakat Jepang dari hasil observasi mereka dari peristiwa alam yang sering menimpa mereka, seperti gempa dan badai taifun.

Setelah masuknya masyarakat Cina ke Jepang, bangunan-bangunan monumental untuk kepentingan komunitas dan agama pun mulai dibangun.

Akulturasi budaya Jepang dan Cina memengaruhi gaya arsitektur bangunan di Jepang pada saat itu, seperti modifikasi balok tumpuk di ujung atas tiang bangunan keagamanaan Jepang yang bahkan masih bisa kita temui sampai saat ini.

Kemudian pada abad VIII, sejumlah kuil yang terletak di hutan pinggiran kota mengatur tata letak serta menyesuaikan bentuk dan ukuran bangunannya agar sesuai dengan kontur wilayah yang bergunung-gunung.

Pada masa itu terlihat masyarakat Jepang mulai memikirkan bagaimana seharusnya sebuah bangunan dibuat berdasarkan klasifikasi geografis wilayahnya.


Menariknya, teknologi konstruksi tradisional Jepang bisa dikatakan berbeda dengan “logika” arsitektur modern.

Apabila arsitektur modern menerapkan penguatan terhadap kekakuan bangunan untuk melawan gempa, bangunan tradisional Jepang justru mengandalkan kelenturan sambungan antarbagian bangunan untuk meredam energi gempa, sehingga menimbulkan efek lentur dan fleksibel.

Meski demikian, beberapa penelitian mengatakan bahwa modifikasi balok tumpuk ala bangunan tradisional Jepang ini justru lebih tahan terhadap guncangan gempa daripada sambungan langsung balok-tiang yang biasa digunakan dalam bangunan-bangunan kayu moden.

Kekakuan sambungan langsung balok-tiang umumnya akan mengalami pecah ujung apabila terpelintir pada saat terjadi gempa.

Sedangkan modifikasi balok tumpuk malah berfungsi mengembalikan posisi tiang yang miring akibat gempa berkat beratnya.

Pengembangan rumah tahan gempa

Kini pengembangan rumah anti gempa di Jepang masih terus dilakukan, untuk memenuhi kebutuhan akan perumahan yang aman dari gempa dan nyaman untuk ditinggali.

Penggabungan antara teknologi, sains dan juga kebutuhan lifestyle berhasil menciptakan hunian yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.



Salah satu rumah anti gempa di Jepang yang didirikan pada tahun 2016 yaitu Hat House karya Apollo Architects, berhasil menciptakan sebuah hunian yang tidak hanya tahan terhadap guncangan gempa namun juga sangat apik dipandang mata.

Rumah ini memiliki struktur berbentuk kubus dengan dinding beton bertulang tebal serta atap berbingkai kayu yang lebih tradisional.

Perusahaan yang bergerak di bidang inovasi, Air Danshin, misalnya berhasil mengembangkan rumah anti-gempa dengan model terbaru. Model rumah tahan gempa terbarunya dibuat dengan memanfaatkan teknologi airbag.

Cara kerja rumah tahan gempa yang dikembangkannya adalah dengan adanya sensor yang dapat merasakan getaran. Setelah sensor tersebut aktif, kompresor dalam waktu satu detik akan hidup secara otomatis dan memompa udara ke dalam airbag.

Hal tersebut lah yang memungkinkan rumah rancangan mereka dapat terbang atau lebih tepatnya melayang pada saat gempa terjadi.

Airbag akan menggembung, dan langsung mengangkat seluruh struktur bangunan setinggi tiga sentimeter dari landasan beton.

Di sana, struktur bangunan akan melayang-layang selama gempa. Setelah gempa usai, airbag akan mengempis secara perlahan dan struktur bangunan rumah kembali ke posisi semula.

Sebagai masyarakat yang hidup di negara dengan potensi gempa yang besar, sudah sepatutnya kita memikirkan faktor keselamatan diri kita dan keluarga pada saat terjadi bencana.

Rumah yang kita impikan tentu bukan hanya sebuah hunian yang nyaman, namun juga dapat menjamin keamanan dan keselamatan kita dan keluarga.

Jadi, apakah Anda tertarik memiliki rumah anti gempa dengan desain yang unik atau rumah anti gempa yang dapat melayang?


Komentar